Wednesday, September 13, 2006

AKU MENCARI MIMPI


Ada setangkup rasa yang menjelma dalam diam,
Menilik sepi mencari makna,
Bersisipan rasa itu dan ini, ini dan itu tak tentu juga,
Lewat hanya detik berpagut dalam menit dan jam, serta hari, lalu lewat,
Tak sebersitpun singgah,
Mampir barang sejenak dua pun juga tidak,
Ruang yang ada hanya jauh dan bentang,
Jelmai titik diri menebak mimpi,
Satu dan dua, mungkin juga seribu berpilin simpul rumit,
Merangkai tali menjadi sutra,
Serupa rasa, mirip juga rindu,
Tak sama juga, dekat hanya mungkin,
Bernyanyi hati tak tentu nada,
Ada dan tiada bersampir temui duka,
Menerobos suka, tapi tidak cita.

Aku mencari mimpi. Barang satu ataupun dua bolehlah.
Tapi mohon...berikan aku nyata, sesaatpun tak apa.

23:53 – September 13, 2006

Wednesday, September 06, 2006

RINDU


Denting kalbu, mencari lagu
Memainkan nada, pertanda gundah

Sulur sulur waktu hanya meratap
Menangisi detik berlalu lewati gelap

Silih hati berganti rasa dan tanya
Mendulang sesal tak kunjung selesai

Kunang kunang duduk terpaku
Mendiami hati dalam tumpukan kaku

Sesekali rasa datang menderu
Membongkar perisai penjaga logikaku

Satu saja pinta bersauh
Hanya disampingmu yang aku mau

Berlumur rindu, menuai sendu
Kapankan bertemu? Aku juga tidak tahu...

Aku rindu kamu, ri...Sejadi jadinya bisa rindu dirasa.

12:00 – September 6, 2006

Thursday, August 24, 2006

MENGURAI DIRI


Tempa berulang, hati tak gentar
Percikan api, tambahkan pasti
Lewati bara, kuatkan rasa

Duduk saja berdiam gundahmu
Ratapi apa yang dipunya dalam diam
Biar saja semua berurai
Mengendap bersama rasa merasa

Tanya saja hati...
Sisi mana boleh dijaga
Bagian mana pantas disimpan

Temukan jawab, tembusi ego
Selaksa makna, berjuta hampa

Lalui saja semua
Temukan cahaya diujung sana
Mungkin jalan kembali, atau bahkan bukan sama sekali
Hanya diri yang jawab, semoga tanpa bimbang
Menguatkan jiwa, sempurnakan rasa

*Untuk sahabat2 yang sedang tersesat...

00:32 – August 24, 2006

Saturday, August 19, 2006

Titah Ombak...

Menjadi milikmu melengkapkan
Yang ada cuma kesempurnaan

Pilihan biar saja terbuat
Ribuan beda tak pernah menjadi halang
Indah dan bahkan melengkapkan, kata kita
Namun hanya hati yang boleh tahu
Cuma tulus yang dipunya jiwa
Entah sampai kapan boleh termiliki

Biar saja...
Dalam lingkar waktu semua akan terjawab

01:33 – August 19, 2006

BERDIRILAH DIRI...


Biar saja kuretas dinding tinggi ini tanpa batas
Menjadikan pantulan rasa yang membentur sebagai kaca
Menjadikan setiap serpih sebagai bekal diri

Gaung rasa luruh itu pecah
Runtuh
Berurai
Hancur

Dapatkah diri berdiri?
Mengutipi setiap sisi luruh untuk bangkit
Lewati titik rasa dengan satu cara

Mungkin hanya perlu bersyukur
Dengan semua kehampaan yang melanda

Berdiamlah, diri...
Sejenak saja juga boleh
Belajar letakkan diri pada tempatnya
Agar dinding tinggi itupun tak lagi jadi aral
Agar yang dipunya cuma indah
Tanpa perih tanpa sedih
Cuma indah...

Tell me that you’re for real, even just for a moment...please...

00:53 – August 19, 2006

Tuesday, August 08, 2006

BULAN PENUH

“Lihat, sayang…
Bulan penuh…
Aku lihat wajah cantikmu diatas sana
Membawa senyummu untukku
Aku kangen…”

Lihat juga, sayang…
Apa yang kita punya?
Sakitkah? Indahkah?

Mengapa semua mendera kita begitu hebat?
Menjadikan hati serasa limbung
Harus apa dirasa
Harus bagaimana ditindak

Langitnya terang, sayang…
Mengapa langit kita tidak bisa seperti itu?
Mengapa langit kita tak bisa menentukan warna?

“Langit kita punya warna, sayang…
Langit kita cerah sempurna, tanpa mendung.
Coba lihat ketika setiap kita bergandengan tangan.
Coba pandang ketika kita hanyut dalam peluk.
Langit kita sempurna….”

Engkau lihatkah dari sana bulan ini juga, sayang?
Bukan hanya senyum yang kutitip padanya barusan
Aku titip juga telingaku untuk mendengarmu membagi
Aku titip juga tanganku untuk mengusap rambutmu

“Bulan yang sama juga, sayang…
Biar aku ambil semua titipanmu padanya.
Untuk temaniku selalu…”

Tidurlah, sayang…
Mimpikan aku bersama adamu malam ini

23:48 – August 8, 2006